MAJALAH PLAYBOY INDONESIA
Maret 2006, Majalah playboy Indonesia akan terbit, isu sosial ini kemudian menimbulkan banyak kontradiksi di kalangan masyarakat sehingga UU Pornografi dan Pornoaksi diharapkan sesegera mungkin sebagai jawaban.
Banyak kalangan termasuk agamis mulai memaparkan gagasannya yang didukung oleh sudut pandang keimanannya, ada yang secara tegas menentangnya, ada yang bersikap moderat dalam menyikapinya.
Saya di sini bukan ingin menambah kontrakdiksi yang terjadi, tetapi lebih sekedar wacana sebagai makna yang dapat dipetik dari polemik sosial yang bergejolak dalam masyarakat kita ini yang didasari oleh pemaknaan kitab suci.
Rasul paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus dalam I Korintus 8 : 13 “ Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku “. Bagian ini dapat menjadi lebih jelas jika kita membaca ayat- ayat sebelumnya dalam pasal 8.
Makna yang dapat kita peroleh dari bagian di atas adalah ketika begitu banyak masalah yang terjadi di seputar kita baik dalam lingkungan sosial, dunia kerja, aktivitas gerejawi maupun lingkup lainnya, maka yang perlu menjadi pertimbangan kita adalah adanya perbedaan tingkat pola pikir dan kedewasaan iman. Hal ini semakin menyadarkan kita untuk mengkaji telebih dahulu sikap yang akan kita tampilkan baik dalam bentuk statement atau yang lainnya.
Hal ini tentu saja dicermati sebagai langkah awal yang praktis sebagai solusi jangka pendek yang harus diikuti dengan proses pembelajaran.
Maret 2006, Majalah playboy Indonesia akan terbit, isu sosial ini kemudian menimbulkan banyak kontradiksi di kalangan masyarakat sehingga UU Pornografi dan Pornoaksi diharapkan sesegera mungkin sebagai jawaban.
Banyak kalangan termasuk agamis mulai memaparkan gagasannya yang didukung oleh sudut pandang keimanannya, ada yang secara tegas menentangnya, ada yang bersikap moderat dalam menyikapinya.
Saya di sini bukan ingin menambah kontrakdiksi yang terjadi, tetapi lebih sekedar wacana sebagai makna yang dapat dipetik dari polemik sosial yang bergejolak dalam masyarakat kita ini yang didasari oleh pemaknaan kitab suci.
Rasul paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus dalam I Korintus 8 : 13 “ Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku “. Bagian ini dapat menjadi lebih jelas jika kita membaca ayat- ayat sebelumnya dalam pasal 8.
Makna yang dapat kita peroleh dari bagian di atas adalah ketika begitu banyak masalah yang terjadi di seputar kita baik dalam lingkungan sosial, dunia kerja, aktivitas gerejawi maupun lingkup lainnya, maka yang perlu menjadi pertimbangan kita adalah adanya perbedaan tingkat pola pikir dan kedewasaan iman. Hal ini semakin menyadarkan kita untuk mengkaji telebih dahulu sikap yang akan kita tampilkan baik dalam bentuk statement atau yang lainnya.
Hal ini tentu saja dicermati sebagai langkah awal yang praktis sebagai solusi jangka pendek yang harus diikuti dengan proses pembelajaran.
Contoh di bawah ini mungkin dapat menjadi aplikasi :
Seorang aktivis gereja memiliki hobi main billiard ditanya oleh seorang yang baru bertobat dari kehidupan judi billiard dan seks bebas, tentang boleh atau tidak main billiard?Pembicaraan ini pun melibatkan beberapa remaja – pemuda dan pengusaha billiard yang tidak mengetahui latar belakang orang yang bertanya tersebut?
Sudah pasti jawabannya secara spontan adalah boleh karena billiard game dipahami sebagai” just fun games “ tetapi hal ini bagi seorang petobat baru di atas merupakan aktivitas yang harus dihindari karena akan “menggodainya” untuk kembali ke kehidupan lama sehingga di sini perlu diperlukan hikmat untuk lebih dari menjawab secara spontan.
Ada banyak hal seperti di atas dalam kontak sosial yang memerlukan lebih dari sekedar jawaban spontan. Semoga hikmat Tuhan menaungi kita untuk menjadi berkat dalam menyikapi polemik sosial yang ada di seputar kita!
in ENGLISH version :
The PLAYBOY INDONESIA MAGAZINE
In March 2006, Majalah playboy Indonesia will rise, these social rumours afterwards caused many contradictions in the social circle so as Pornografi UU and Pornoaksi were hoped for as immediately as possible as the answer.
Many circles including religious began explained his idea that was supported by his faith point of view, there was those who firmly opposed him, there were those who had a moderate attitude in responding to him. I here not want to increased kontrakdiksi that happened, but rather only a discourse as the meaning that could be reaped from social polemics that fluctuated in our community that was provided a basis for by elucidation of the holy scripture.
The example below this possibly could become the application: A church activist had the hobby played billiard was asked by a person who just repented from the life of gambling billiard and free sex, about might or did not play billiard? There were many matters like above in social contact that needed more than only a spontaneous answer. May the Lord's wisdom protect us to become the blessing in responding to social polemics available around us!

0 comments:
Post a Comment